Wednesday, 25 September 2013

Contoh PTK heru


CONTOH PTK HERU



  Kajian Pustaka
Kajian pustaka menguraikan teori, dan hasil-hasil penelitian yang relevan yang diperoleh dari acuan (buku atau jurnal-jurnal ilmiah), yang dijadikan landasan untuk melakukan penelitian yang diusulkan. Kemukakan kajian teori yang relevan dengan variabel masalah maupun variabel tindakan. Berdasarkan urutan, kemukakan terlebih dahulu kajian teori yang sesuai dengan variabel masalah dan baru kemudian kajian teori yang sesuai dengan variabel tindakan. Sejalan dengan contoh judul yang telah dikemukakan, peneliti menguraikan kajian teori tentang Kemampuan Menulis dan selanjutnya teori tentang Strategi Komposisi Terkendali dan Terarah. Uraian dalam Tinjauan Pustaka dibawa untuk menyusun kerangka atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Dalam hubungan ini hendaknya diusahakan pustaka yang relevan dan terbaru. Dalam landasan teori perlu dikemukakan deskripsi teori dan kerangka berpikir sehingga selanjutnya dapat dirumuskan hipotesis tindakan.
1.      Kerangka  Teori
Kerangka teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekadar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan atau dideskripsikan akan bergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis bergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Oleh karena itu, makin banyak variabel yang diteliti, maka akan makin banyak teori yang perlu dikemukakan.
Kerangka teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antarvariabel yang akan diteliti akan menjadi lebih jelas dan terarah.
Teori-teori yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan penelitian dapat digunakan sebagai indikator apakah peneliti menguasai teori dan konteks yang diteliti atau tidak. Variabel-variabel penelitian yang tidak dapat dijelaskan dengan baik, baik dari segi pengertian maupun kedudukan dan hubungan antarvariabel yang diteliti, menunjukkan bahwa peneliti tidak menguasai teori dan konteks penelitian.
Untuk menguasai teori maupun generalisasi-generalisasi dari hasil penelitian, peneliti harus rajin membaca. Kita harus rajin membaca dan menelaah yang dibaca itu setuntas-tuntasnya agar kita dapat menegakkan landasan yang kokoh bagi langkah-langkah berikutnya. Untuk dapat membaca dengan baik, peneliti harus mengetahui sumber-sumber bacaan. Sumber-sumber bacaan dapat berupa buku-buku teks, kamus (khususnya kamus istilah), ensiklopedia, jurnal ilmiah, internet, dan hasil-hasil penelitian.
Sumber bacaan yang baik harus memenuhi tiga kriteria yaitu relevansi, kelengkapan, dan kemutakhiran (kecuali penelitian sejarah, penelitian ini justru menggunakan sumber-sumber yang lama). Relevansi berkenaan dengan kecocokan antara variabel yang diteliti dengan teori yang dikemukakan, kelengkapan berkenaan dengan banyaknya sumber yang dibaca, kemutakhiran berkenaan dengan dimensi waktu. Makin baru sumber yang digunakan, makin mutakhir teori tersebut.
Terdapat sejumlah prinsip dalam memilih sumber pustaka. Prinsip-prinsip itu dikemukakan berikut ini.
a.       Relevansi
Telaah pustaka sering disebut landasan teoritis. Oleh karena itu, sumber pustaka yang digunakan harus benar-benar relevan, berisi pernyataan-pernyataan yang dapat digunakan sebagai acuan dan kerangka pemikiran dalam memecahkan masalah penelitian. relevansi tersebut juga dapat ditinjau dari kesesuaian antara sumber pustaka itu dengan disiplin ilmu yang dibahas.
b.      Kemutakhiran
Prinsip ini sangat penting dengan pertimbangan bahwa ilmu dan teknologi telah makin berkembang dengan pesat dan kemajuan zaman menghendaki peneliti memilih teori yang mutakhir.
c.       Akurasi dan Kualitas
Jika sejumlah data dikemukakan oleh seorang penulis dan data tersebut akan kita gunakan untuk menyusun sebuah rancangan penelitian, maka kita perlu mempertanyakan apakah data tersebut akurat dan dapat dipertanggungjawabkan validitasnya. Sementara itu, sumber data yang berkualitas adalah sumber data yang memuat uraian tentang suatu teori atau konsep yang teliti berdasarkan pemikiran yang akurat, luas, mendalam, dan disajikan secara sistematis. Di samping itu, perlu juga dipertimbangkan kewenangan atau otoritas penulisnya.
2.      Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir atau kerangka pemikiran yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antarvariabel yang akan diteliti. Pertautan antarvariabel tersebut selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigma penelitian. oleh karena itu, pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berpikir.
Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan (Suriasumantri, 1986). Kriteria pertama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuwan adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berpikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis.
Kerangka berpikir merupakan sintesis tentang hubungan antarvariabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan itu selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis sehingga menghasilkan sintesis tentang hubungan antarvariabel yang diteliti. Sintesis tentang hubungan antarvariabel tersebut selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis.
Kerangka berpikir yang baik antara lain memuat (1) variabel-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan dan (2) diskusi dalam kerangka berpikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan/hubungan antarvariabel yang diteliti dan ada teori yang mendasari. Dalam PTK, berdasarkan kajian teori yang telah dilakukan, penyusun proposal harus mampu menjelaskan bahwa bentuk tindakan yang akan dilakukan dapat mengatasi permasalahan.
3.      Hipotesis Tindakan
Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berpikir. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua penelitian harus merumuskan hipotesis. Penelitian yang bersifat eksploratif dan sering juga dalam penelitian deskriptif tidak perlu merumuskan hipotesis.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. oleh karena itu, rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta yang empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik.
Hipotesis merupakan kesimpulan kerangka berpikir. Dalam penelitian kuantitatif, hipotesis inilah yang akan diuji melalui penelitian. Berbeda dengan penelitian kuantitatif, dalam penelitian kualitatif, hipotesis tidak harus ada. Hipotesis pengarah dapat dirumuskan sebagai arahan yang bersifat tentatif. Sementara itu, dalam penelitian tindakan kelas, hipotesis yang dirumuskan atau diajukan oleh peneliti adalah hipotesis tindakan.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa tinjauan pustaka menguraikan teori, temuan, dan bahan penelitian lain yang diperoleh dari acuan (buku atau jurnal-jurnal ilmiah), yang dijadikan landasan untuk melakukan penelitianyang diusulkan. Uraian dalam tinjauan pustaka dibawa untuk menyusun kerangka atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. berdasarkan teori dan kerangka berpikir itulah selanjutnya dikemukakan hipotesis tindakan atau hipotesis kerja.
Contoh:
a.       Penerapan strategi komposisi terkendali dan terarah dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis siswa kelas VI SD N Tambakreja 02.
b.      Penerapan strategi komposisi terkendali dan terarah dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas VI SD N Tambakreja 02 dalam menulis.
4.      Indikator kinerja dan kriteria keberhasilan.
Indikator kinerja merupakan atribut atau tanda-tanda yang dapat teridentifikasi yang biasa digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perubahan kinerja setelah tindakan perbaikan dilakukan, sedangkan kriteria keberhasilan adalah patokan normatif yang digunakan untuk mgengukur tingkat keberhasilan tindakan.
Contoh:
a.       Indikator kinerja
1)      Indikator yang digunakan untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran menulis adalah: tingkat partisipasi siwa dalam mengikuti pembelajaran,  kreativitas siswa dalam pencarian ide dan gagasan, kesunguhan siswa dalam menulis.
2)      Indikator yang digunakan untuk mengatahui peningkatan kemampuan siswa dalam menulis adalah: kesinambungan penuangan ide dalam wacana, akurasi dan kualitas, serta gramatikal dan tatatulis.
b.      Kriteria keberhasilan
1)   Tindakkan yang dilakukan dinyatakan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran menulis jika minimal 80% dari jumlah siswa mampu menunjukan 2 dari 3 indikator yang diprasyaratkan.
2)   Tindakan yang dilakukan dinyatakan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis jika minimal 80% dari jumlah siswa mendapat nilai kemampuan menulis diatas 80.
Anda sebagai peneliti dapat mengkreasikan indikator kinerja dan kriteria keberhasilan sendiri dengan logika dan teori yang memposisikan proporsionalitas kepentingannya.



Popular Posts