Sunday, 6 October 2013

CONTOH PTK SD

Contoh PTK SD | Ciri-ciri manajemen Sekolah yang mengacu pada MBS

Ciri-ciri manajemen Sekolah yang mengacu pada MBS

HERU PURWANTO

Berikut ini, ciri-ciri manajemen sekolah yang mengacu pada MBS:

Visi dan misi dirumuskan bersama oleh Kepala Sekolah, Guru, unsur siswa, Alumni, dan Stakeholder;
RPS mengacu pada visi dan misi yang telah dirumuskan;
Penyusunan RAPBS sesuai dengan RPS yang disusun bersama oleh kepala sekolah, guru, dan komite sekolah secara transparan;
Akuntabel (tanggung gugat);
Otonomi sekolah terwujud yang ditandai kemandirian dan dinamika sesuai dengan kebutuhan masyarakat;
Pengambilan keputusan dilaksanakan secara partisipatif dan demokratis;
Terbuka menerima masukan, kritik, dan saran dari pihak manapun demi penyempurnaan program;
Mampu membangun komitmen seluruh warga sekolah untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan;
Pemberdayaan seluruh potensi warga sekolah dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan;
Terciptanya suasana kerja yang kondusif untuk peningkatan kinerja sekolah;
Mampu memberikan rasa bangga kepada semua pihak (warga masyarakat dan sekolah);
Ada transparansi dan akuntabilitas publik didalam melaksanakan seluruh kegiatan.

CONTOH PTK SD

Contoh PTK SD | Desentralisasi Pendidikan

Desentralisasi Pendidikan

HERU PURWANTO

Saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan. Beberapa perubahan paradigma manajemen pemerintahan tersebut antara lain:

Petama, orientasi manajemen yang sarwa negara ke orientasi pasar. Dalam kaitan ini, aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi permasalahan yang muncul.

Kedua, orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Berkaitan dengan hal ini, pendekatan kekuasaan bergeser arahnya ke sistem yang lebih mengutamakan peranan rakyat. Kedaulatan rakyat akhirnya menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis.

Ketiga, sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang.

Keempat, sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh globalisasi. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tataaturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global.

Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan akibatnya desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif, yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah.

Disamping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal), menghambat kreativitas, dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi1 terinci sbb.:

Pertama, tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan.

Kedua, anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik
dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah.

Ketiga, ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah
setempat dan masyarakat yang beragam.

Keempat, penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat

Kelima, tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan.

Desentralisasi pendidikan, mencakup tiga hal, yaitu; (a) manajemen berbasis lokasi (site based management); (b) pendelegasian wewenang; dan (c) inovasi kurikulum.

Pada dasarnya manajemen berbasis lokasi dilaksanakan dengan meletakkan semua urusan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Pengurangan administrasi pusat adalah konsekwensi dari yang pertama dengan diikuti pendelegasian wewenang dan urusan pada sekolah. Inovasi kurikulum menekankan pada pembaharuan kurikulum sebesar-besarnya untuk meningkatkan kualitas dan persamaan hak bagi semua peserta didik. Kurikulum disesuaikan benar dengan kebutuhan peserta didik di daerah atau sekolah. Pada kurikulum 2004 yang telah diberlakukan, pusat hanya akan menetapkan kompetensi-kompetensi lulusan dan materi-materi minimal. Daerah diberi keleluasaan untuk mengembangkan silabus (GBPP) nya yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan daerah. Pada umumnya program pendidikan yang tercermin dalam silabus sangat erat dengan program-program pembangunan daerah. Sebagai contoh, suatu daerah yang menetapkan untuk mengembangkan ekonomi daerahnya melalui bidang pertanian, implikasinya silabus IPA akan diperkaya dengan materi-materi biologi pertanian dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pertanian. Manajemen berbasis lokasi yang merujuk ke sekolah, akan meningkatkan otonomi sekolah dan memberikan kesempatan kepada tenaga sekolah, orangtua, siswa, dan anggota masyarakat dalam pembuatan keputusan.
Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat, Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam anggaran, personalia, kurikulum dan penilaian. Studi yang dilakukan di El Savador, Meksiko, Nepal, dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. Tetapi desentralisasi pengelolaan guru tidak secara otomatis meningkatkan efesiensi operasional. Jika pengelola di tingkat daerah tidak memberikan dukungannya, pengelolaan semakin tidak efektif. Oleh karena itu, beberapa negara telah kembali ke sistem sentralisasi dalam hal pengelolaan ketenagaan, misalnya Kolombia, Meksiko, Nigeria, dan Zimbabwe.

Misi desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, meningkatkan pendayagunaan potensi daerah, terciptanya infrastruktur kelembagaan yang menunjang terselengaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan jaman, antara lain terserapnya konsep globalisasi, humanisasi, dan demokrasi dalam pendidikan. Penerapan demokratisasi dilakukan dengan mengikutsertakan unsur-unsur pemerintah setempat, masyarakat, dan orangtua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan.

Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Hal ini tercermin dengan adanya kurikulum lokal. Kurikulum juga harus mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka mengembangkan kebudayaan nasional. Proses belajar mengajar menekankan terjadinya proses pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran lingkungan yaitu memanfaatkan lingkungan baik fisik maupun sosial sebagai media dan sumber belajar, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan alat pemersatu bangsa.

CONTOH PTK SD

Contoh PTK SD \|Jenis-jenis Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan

Jenis-jenis Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan

HERU PURWANTO

Ada bermacam-macam tingkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Peran serta tersebut dapat diklasifikasikan menjadi 7 tingkatan, yang dimulai dari tingkat terendah ke tingkat yang lebih tinggi. Tingkatan tersebut terinci sebagai berikut:
1. Peran serta dengan menggunakan jasa pelayanan yang tersedia. Jenis PSM ini adalah jenis yang paling umum. Masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah dengan memasukkan anak ke sekolah.
2. Peran serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga. Pada PSM jenis ini, masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sekolah dengan menyumbangkan dana, barang, dan/atau tenaga.
3. Peran serta secara pasif. Artinya, menyetujui dan menerima apa yang diputuskan oleh pihak sekolah (komite sekolah), misalnya komite sekolah memutuskan agar orangtua membayar iuran bagi anaknya yang bersekolah dan orangtua menerima keputusan tersebut dengan mematuhinya.
4. Peran serta melalui adanya konsultasi. Orangtua datang ke sekolah untuk berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami anaknya.
5. Peran serta dalam pelayanan. Orangtua/masyarakat terlibat dalam kegiatan sekolah, misalnya orangtua ikut membantu sekolah ketika ada studi banding, kegiatan pramuka, kegiatan keagamaan, dsb.
6. Peran serta sebagai pelaksana kegiatan yang didelegasikan/dilimpahkan. Misalnya, sekolah meminta orangtua/masyarakat untuk memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan, masalah jender,
1. gizi, dsb. Dapat juga berpartisipasi dalam mencatat anak usia sekolah di lingkungannya agar sekolah siap menampungnya, menjadi nara sumber, guru bantu, dsb.
7. Peran serta dalam pengambilan keputusan. Orangtua/masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah pendidikan (baik akademis maupun non akademis) dan ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam rencana pengembangan sekolah.
You might als

Contoh PTK

Ditinjau dari aspek Siswa
Mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa secara maksimal.
Meningkatkan keaktifan siswa dalam menemukan, memecahkan masalah melalui berfikir ilmiah, logis, kritis, dan praktis.
Berani mengemukakan pendapat dalam memecahkan masalah pada situasi kelompok untuk menyimpulkan hasil diskusi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Tidak merasa tertekan dalam proses pembelajaran sehingga anak merasa senang menerima dan menggali informasi di sekitarnya.
Menerapkan keterampilan bagi diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan.

Ditinjau dari aspek Guru
Mendorong keaktifan siswa dengan mengemukakan gagasan, pendapat, dan ide baru di masa datang.
Mengembangkan kegiatan yang beragam dengan menggunakan media dan metode yag bervariasi.
Memberikan motivasi kepada siswa untuk meningkatkan prestasi dengan jalan mengharagai karya anak melalui pajangan hasil kreativitas anak.Berusaha mencapai tujuan pembelajaran sesuai target dan waktu yang disediakan

Contoh PTK

RPS sebaiknya disusun secara bersama-sama antara pihak sekolah (KS dan guru), dengan stakeholder (pihak yang berkepentingan) a.l.: Komite sekolah, tokoh masyarakat, dan pihak lain yang peduli pendidikan di sekitar sekolah. Dalam penyusunan RPS ini diharapkan diterapkan konsep sbb:

1. Partisipatif, hal ini mendorong dan melibatkan tiap warga untuk menggunakan hak dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan, sehingga warga merasa memiliki dan ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan sekolah. Untuk itu, jika menyusun RPS sebaiknya melibatkan semua stakeholder pendidikan, misal: Kepala Sekolah, Guru, Komite Sekolah, dan Warga. Akan lebih baik jika melibatkan stakeholder yang lain misal; unsur Pemerintah (Dinas/ kecamatan), Swasta, LSM Peduli Pendidikan, dll.

2. Transparan, hal ini diperlukan dalam rangka menciptakan kepercayaan timbal balik antar stakeholder melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai.

3. Akuntabel, segala pelaksanaan rencana dan kegiatan diusahakan dapat meningkatkan akuntabilitas (pertanggunggugatan) para pengambil keputusan dalam segala bidang yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.

4. Berwawasan ke depan, karena RPS adalah suatu rencana yang disusun untuk mencapai tujuan
5. di masa depan, perlu diingat bahwa segala sesuatu haruslah disusun dengan mempunyai wawasan yang luas dan kedepan.

6. Spesifik, Terjangkau, dan Realistis, sebaiknya dalam menyusun RPS, sekolah mengacu pada hal yang sesuai kebutuhan sekolah masing-masing, tidak terlalu muluk, dan berpijak pada kenyataan yang ada (kemampuan sumber daya: manusia, keuangan, dan material)

Contoh PTK

Sekolah, sebagai lembaga/institusi, mempunyai satu atau lebih tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu disusun rencana dan langkah bagaimana cara mencapai tujuan tersebut. Pada umumnya tujuan sekolah dipaparkan dalam bentuk Visi dan Misi Sekolah. Cara pencapaiannya dilakukan melalui berbagai perencanaan dan program kegiatan yang dituangkan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS).

Umumnya sekolah cenderung statis. Mereka mulai bergerak setelah ada masalah yang muncul. Perencanaan dilakukan tidak hanya untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi, tetapi juga untuk perencanaan ke depan dalam hal peningkatan kinerja sekolah atau untuk mengantisipasi perubahan dan tuntutan jaman. Visi-Misi sekolah pada umumnya masih bersifat umum, sehingga perlu dijabarkan dalam Komponen Visi-Misi, termasuk program yang harus sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan Sekolah. Sangat sering ditemukan Sekolah yang tidak mempunyai program yang relevan dengan Visi-Misinya.

Agar sekolah dapat berkembang optimal, perlu mempunyai RPS. Idealnya RPS harus mengacu visi dan misi sekolah dan penjabarannya. Perencanaan program dirinci secara terukur dan realistis dalam jenis-jenis kegiatan konkret yang mampu dilaksanakan. Perencanaan sebaiknya tidak dibuat terlalu muluk, tidak berpijak pada kondisi yang sesungguhnya, dan kurang melihat inti permasalahan . Hal seperti ini perlu diidentifikasi terlebih dahulu, dianalisis penyebabnya, dan dicarikan alternatif pemecahannya. Alternatif mengatasi permasalahan yang dijadikan pilihan prioritas atas kegiatan haruslah dicari terlebih dahulu, disusun anggarannya, kemudian dicarikan kekurangan dananya (yang masih diperlukan). Bukan sebaliknya, dari uang yang sudah terkumpul baru disusun rencana dan anggarannya.

RPS sebaiknya dibuat bersama secara partisipatif antara pihak sekolah (KS dan guru), bersama dengan stakeholder (pihak yang berkepentingan lainnya), misalnya: Komite sekolah, tokoh masyarakat, dan pihak lain yang peduli pendidikan di sekitar sekolah. Dengan melibatkan mereka, sekolah telah menunjukkan sikap terbuka dan siap bekerjasama. Hal tersebut akan meningkatkan rasa memiliki, serta dapat mengundang simpati sehingga masyarakat akan merasa senang memberikan dukungan atau bantuan yang diperlukan sekolah.

Contoh PTK


Mengapa MBS?
Tujuan utama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah peningkatan mutu pendidikan. Dengan adanya MBS sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perint ah dari atas. Mereka dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri.

Apa itu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)?
¨ Dalam rangka Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) alokasi dana kepada sekolah menjadi lebih besar dan sumber daya tersebut dap at dimanfaatkan sesuai kebutuhan sekolah sendiri.
¨ Sekolah lebih bertanggung jawab terhadap perawatan, kebersihan, dan penggunaan fasilitas sekolah, termasuk pengadaan buku dan bahan belajar. Hal tersebut pada akhirnya akan meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di kelas.
¨ Sekolah membuat perencanaan sendiri dan mengambil inisiatif sendiri untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan melibatkan masyarakat sekitarnya dalam proses tersebut.
¨ Kepala sekolah dan guru dapat bekerja lebih profesional dalam memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak di sekolahnya.

Komponen Manajemen Berbasis Sekolah
Tujuan Program MBS adalah peningkatan mutu pembelajaran.
Program ini terdiri atas tiga komponen, yaitu:
¨ Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
¨ Peran Serta Masyarakat (PSM), dan
¨ Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar Mengajar melalui Penginkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) di SD-MI, dan Pembelajaran Kontekstual di SLTP-MTs.

Contoh PTK

Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management) dan Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia

Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management) dan Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia

Muhammad Faiq Dzaki

Telah banyak usaha peningkatan mutu pendidikan di tingkat pendidikan dasar tetapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. Dari berbagai studi dan pengamatan langsung di lapangan, hasil analisis menunjukkan bahwa paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.

Pertama, kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang berorientasi pada keluaran pendidikan (output) terlalu memusatkan pada masukan (input) dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan.

Kedua, penyelengaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik. Hal ini menyebabkan tingginya ketergantungan kepada keputusan birokrasi dan seringkali kebijakan pusat terlalu umum dan kurang menyentuh atau kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah setempat. Di samping itu segala sesuatu yang terlalu diatur menyebabkan penyelenggara sekolah kehilangan kemandirian, insiatif, dan kreativitas. Hal tersebut menyebabkan usaha dan daya untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu layanan dan keluaran pendidikan menjadi kurang termotivasi.

Ketiga, peran serta masyarakat terutama orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. Padahal peran serta mereka sangat penting di dalam proses-proses pendidikan antara lain pengambilan keputusan, pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas.

Atas dasar pertimbangan tersebut, perlu dilakukan reorientasi penyelengaraan pendidikan melalui pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management).

Contoh PTK

Beberapa fakta tentang peran komite sekolah:
a. Di sebagian daerah, sosialisasi tentang Peran Komite Sekolah kepada masyarakat belum diefektifkan sehingga Komite belum berperan secara optimal
b. Di beberapa sekolah, Komite hanya berperan sebagai “alat kelengkapan” sekolah
c. Komite sekolah hanya difungsikan sebagai pengumpulan dana untuk membiayai program fisik sekolah dan kurang menyentuh program non fisik.
d. Di beberapa sekolah, komposisi keanggotaan laki-laki dan perempuan dalam organisasi komite sekolah belum berimbang.

Komite Sekolah berperan sebagai:
1. Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan;
2. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan;
3. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan;
4. Mediator antara pemerintah (mediating agency) dengan masyarakat di satuan pendidikan.

Komite Sekolah berfungsi sebagai berikut:
1. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu;
2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/dunia usaha/dunia industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu;
3. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutulhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat;
4. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai:
a. kebijakan dan program pendidikan;
b. Rencana Anggaran Pendidikan dan Belanja Sekolah (RAPBS);
c. kriteria kinerja satuan pendidikan;
d. kriteria tenaga kependidikan;
e. kriteria fasilitas pendidikan; dan
f. hal hal lain yang terkait dengan pendidikan;
5. Mendorong orangtua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataaln pendidikan;
6. Menggalang dana masyarakat calam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan;
7. melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan

Contoh PTK

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) - Fakta Tentang Pelaksanaan Di Lapangan

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) - Fakta Tentang Pelaksanaan Di Lapangan

Muhammad Faiq Dzaki

Program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada dasarnya memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat sekolah (stakeholders) untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program sekolah sebaiknya-baiknya. Dalam pelaksanaannya, program MBS cukup bervariasi. Beberapa sekolah telah mengalami kemajuan cukup pesat, ada sekolah yang kinerjanya sedangsedang saja, namun ada juga sekolah yang mengalami sejumlah kendala.

Beberapa fakta yang ditemukan dari hasil analisis pelaksanaan MBS di lapangan :
1) Pengembangan visi, misi, dan program di beberapa sekolah telah menunjukkan kesesuaian dengan prinsip MBS.
2) Perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi program di sejumlah sekolah sudah melibatkan pihak yang berkepentingan (stakeholder), meskipun Peran kepala sekolah masih dominan.
3) Sebagian sekolah masih lebih memfokuskan perhatiannya pada pembangunan fisik. Perencanaan dan pengalokasian anggaran di beberapa sekolah untuk peningkatan mutu pembelajaran belum menjadi prioritas.
4) Pelaksanaan program di beberapa sekolah sudah sesuai dengan Rencana Induk Program Sekolah (RPS) dan Rencana Anggaran dan Pendapatan Sekolah (RAPBS) yang telah dfaktasun.
5) Sebagian sekolah sudah membuat RAPBS dengan mengintegrasikan komponen dana dari berbagai sumber, seperti: APBD, orangtua. masyarakat, dan sumber-sumber lainnya. Sebagian yang lain belum.
6) Prinsip transparansi dan akuntabilitas kegiatan dan keuangan di beberapa sekolah sudah ditunjukkan, misalnya dengan memajangkan RIP/RPS dan RAPBS.
7) Beberapa sekolah masih mengalami kesulitan dalam menyusun RPS, maupun RAPBS, serta ringkasannya.

Contoh PTK

Peran Serta Masyarakat

Peran Serta Masyarakat

Muhammad Faiq Dzaki

Penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, orangtua, dan masyarakat. Ketiganya, sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing, harus berupaya seoptimal-optimalnya ke arah terselenggaranya program pendidikan bermutu. Dalam perkembangannya, dukungan dan peran serta masyarakat dalam menunjang program pembelajaran di sekolah masih beragam, umumnya dukungan masih bersifat fisik, namun ada juga kelompok masyarakat yang sudah membantu proses pembelajaran. Di sisi lain, masih ada sekolah yang kurang mampu dan mau mendekati masyarakat guna membantu program pendidikan, dalam bidang fisik maupun bidang pembelajaran.

Beberapa fakta peran serta masyarakat:
1) Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa program pendidikan merupakan tanggung jawab sekolah dan pemerintah saja;
2) Saat ini, umumnya peran serta masyarakat masih terbatas pada pengumpulan dana dan dukungan fisik untuk pembangunan sekolah saja. Sebagian masyarakat dan juga sekolah, belum menyadari pentingnya potensi, peran serta, hak dan kewajiban dalam peningkatan mutu pembelajaran;
3) Sebagian sekolah sudah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.

Saturday, 5 October 2013

Contoh Proposal Ptk

3 Teori Belajar

Blog http://penelitiantindakankelas.blogspot.com kali ini akan menguraikan berbagai perbedaan teori belajar yang digunakan dalam pembelajaran di sekolah. Setelah membaca tulisan ini, mudah-mudahan kita semua bisa membedakan berbagai teori belajar dalam pembelajaran. Paling tidak, di dalam dunia pendidikan kita dikenal ada 3 teori belajar yang sangat berpengaruh yaitu:
  • teori belajar behavioristik (teori belajar tingkah laku);
  • teori belajar kognitif;
  • teori belajar konstruktivis (teori belajar konstruktif). 

Perbedaan ketiga teori belajar


Perbedaan Teori Belajar Behavioristik, Teori Belajar Kognitif, dan Teori Belajar Konstruktivis
Aspek Behavioristik Kognitif Konstruktivis
Tokoh Pavlov (1849-1936), Watson (1878-1958), Thorndike (1874-1949), Skinner (1904-1990) Jean Piaget, Lev Vygotski Schuman (1996), Merril (1991), Smorsganbord (1997), Gagne, Bloom, Clark.
Dasar Pemikiran Perubahan tingkah laku Proses berpikir dibalik tingkah laku Pengetahuan dibangun secara aktif
Kekuatan Siswa difokuskan pada tujuan yang jelas sehingga dapat menanggapi secara otomatis. Contoh: Siswa mampu menjelaskan sifat-sifat zat cair, maka diharapkan siswa mampu menjawab pertanyaan tentang sifat-sifat zat cair Penerapan teori kognitif bertujuan untuk melatih siswa agar mampu mengerjakan tugas dengan cara yang sama dan konsisten. Contoh: Cara belajar siswa berbeda-beda, mereka perlu secara rutin dilatih untuk mencapai cara umum yang tepat. Siswa diajak untuk memahami dan menafsirkan kenyataan dan pengalaman yang berbeda, supaya mereka lebih mampu menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. Contoh: Bila siswa dapat menyelesaikan masalah dengan berbagai cara, maka siswa akan terlatih untuk menerapkannya dalam situasi yang berbeda (baru).
Kelemahan Siswa dapat berada dalam situasi di mana rangsangan (stimulus) dari jawaban yang benar tidak tersedia. Contoh: Siswa harus membuang sampah pada tempatnya, tetapi di tempat tersebut tidak tersedia tempat sampah. Siswa belajar suatu cara menyelesaikan tugas, tetapi cara yang dipilih belum tentu baik (sesuai). Contoh: Siswa belajar cara menulis surat dengan cara yang sama, perlu diperhatikan perbedaan selera dalam menulis surat. Dalam keadaan dimana kesepakatan sangat diutamakan, pemikiran dan tindakan terbuka dapat menimbulkan masalah. Contoh: Mengikuti aturan sekolah tidak dapat ditawar dan didiskusikan agar peraturannya dibuat berbeda bagi sekelompok siswa tertentu. Mungkin hal itu merupakan gagasan yang konstruktif tetapi akan sulit dilaksanakan.

teori belajar
Teori Belajar
Karena ketiga teori belajar tersebut mempunyai kekuatan/kelebihan dan kelemahan masing-masing, maka pemahaman dan penggunaan ketiganya secara tepat akan membuat pembelajaran yang dilakukan oleh guru kepada siswa akan lebih efektif. Ketiga teori belajar tersebut saling melengkapi.

Beberapa tulisan yang mungkin juga dapat memperjelas pemahaman tentang perbedaan teori-teori belajar tersebut dapat dibaca di sini:
Teori Behavioristik:
Implikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran 
Plus Minus Teori Behavioristik 

Teori Kognitif: 
Memahami Teori Kognitif
Teori Piaget (Teori Belajar Kognitif)

Teori Konstruktivis: 
Sejarah teori Konstruktivis 
Pembelajaran Konstruktivis 
Teori Konstruktivis
Teori Belajar Konstruktivis 

Referensi:
Ella Yulaelawati. 2007. Kurikulum dan pembelajaran (Filosofi, Teori, dan Aplikasi). Pakar Jaya. Jakarta.

Contoh Proposal Ptk

3 Teori Belajar

Blog http://penelitiantindakankelas.blogspot.com kali ini akan menguraikan berbagai perbedaan teori belajar yang digunakan dalam pembelajaran di sekolah. Setelah membaca tulisan ini, mudah-mudahan kita semua bisa membedakan berbagai teori belajar dalam pembelajaran. Paling tidak, di dalam dunia pendidikan kita dikenal ada 3 teori belajar yang sangat berpengaruh yaitu:
  • teori belajar behavioristik (teori belajar tingkah laku);
  • teori belajar kognitif;
  • teori belajar konstruktivis (teori belajar konstruktif). 

Perbedaan ketiga teori belajar


Perbedaan Teori Belajar Behavioristik, Teori Belajar Kognitif, dan Teori Belajar Konstruktivis
Aspek Behavioristik Kognitif Konstruktivis
Tokoh Pavlov (1849-1936), Watson (1878-1958), Thorndike (1874-1949), Skinner (1904-1990) Jean Piaget, Lev Vygotski Schuman (1996), Merril (1991), Smorsganbord (1997), Gagne, Bloom, Clark.
Dasar Pemikiran Perubahan tingkah laku Proses berpikir dibalik tingkah laku Pengetahuan dibangun secara aktif
Kekuatan Siswa difokuskan pada tujuan yang jelas sehingga dapat menanggapi secara otomatis. Contoh: Siswa mampu menjelaskan sifat-sifat zat cair, maka diharapkan siswa mampu menjawab pertanyaan tentang sifat-sifat zat cair Penerapan teori kognitif bertujuan untuk melatih siswa agar mampu mengerjakan tugas dengan cara yang sama dan konsisten. Contoh: Cara belajar siswa berbeda-beda, mereka perlu secara rutin dilatih untuk mencapai cara umum yang tepat. Siswa diajak untuk memahami dan menafsirkan kenyataan dan pengalaman yang berbeda, supaya mereka lebih mampu menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. Contoh: Bila siswa dapat menyelesaikan masalah dengan berbagai cara, maka siswa akan terlatih untuk menerapkannya dalam situasi yang berbeda (baru).
Kelemahan Siswa dapat berada dalam situasi di mana rangsangan (stimulus) dari jawaban yang benar tidak tersedia. Contoh: Siswa harus membuang sampah pada tempatnya, tetapi di tempat tersebut tidak tersedia tempat sampah. Siswa belajar suatu cara menyelesaikan tugas, tetapi cara yang dipilih belum tentu baik (sesuai). Contoh: Siswa belajar cara menulis surat dengan cara yang sama, perlu diperhatikan perbedaan selera dalam menulis surat. Dalam keadaan dimana kesepakatan sangat diutamakan, pemikiran dan tindakan terbuka dapat menimbulkan masalah. Contoh: Mengikuti aturan sekolah tidak dapat ditawar dan didiskusikan agar peraturannya dibuat berbeda bagi sekelompok siswa tertentu. Mungkin hal itu merupakan gagasan yang konstruktif tetapi akan sulit dilaksanakan.

teori belajar
Teori Belajar
Karena ketiga teori belajar tersebut mempunyai kekuatan/kelebihan dan kelemahan masing-masing, maka pemahaman dan penggunaan ketiganya secara tepat akan membuat pembelajaran yang dilakukan oleh guru kepada siswa akan lebih efektif. Ketiga teori belajar tersebut saling melengkapi.

Beberapa tulisan yang mungkin juga dapat memperjelas pemahaman tentang perbedaan teori-teori belajar tersebut dapat dibaca di sini:
Teori Behavioristik:
Implikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran 
Plus Minus Teori Behavioristik 

Teori Kognitif: 
Memahami Teori Kognitif
Teori Piaget (Teori Belajar Kognitif)

Teori Konstruktivis: 
Sejarah teori Konstruktivis 
Pembelajaran Konstruktivis 
Teori Konstruktivis
Teori Belajar Konstruktivis 

Referensi:
Ella Yulaelawati. 2007. Kurikulum dan pembelajaran (Filosofi, Teori, dan Aplikasi). Pakar Jaya. Jakarta.

Contoh Laporan Ptk

Teori Kognitif Piaget dan Vygotsky

Tulisan tentang memahami teori belajar kognitif ini dibuat untuk melengkapi tulisan sebelumnya yang berjudul Perbedaan berbagai teori Belajar. Tujuannya adalah agar pemahaman kita (guru) tentang berbagai teori-teori belajar dan perbedaan setiap teori-teori tersebut semakin baik.

Teori belajar kognitif merupakan teori belajar yang disusun berdasarkan proses-proses berpikir seseorang yang terjadi di belakang peilaku seseorang. Perubahan perilaku seseorang dapat diamatidan digunakan sebagai penanda tentang apa yang terjadi pada pikiran (otak) orang tersebut.

Tentang Teori Kognitif

Tokoh-tokoh yang melahirkan teori belajar kognitif adalah Jean Piaget dan Lev Vygotski. Menurut teori belajar ini, semua gagasan dan citraan (image)seseorang diwakili oleh suatu struktur mental yang disebut skema. Struktur mental yang disebut skema ini akan menentukan bagaimana data dan informasi yang diterima seseorang dipahami. Ada dua kemungkinan yang terjadi: (1) bila informasi yang diterima sesuai dengan skema yang telah dimiliki, maka informasi itu dapat diterima dan diserap; (2) bila informasi yang diterima tidak sesuai dengan skema yang telah dimiliki, maka hal yang terjadi adalah, informasi tersebut ditolak, atau diubah, atau disesuaikan dengan skema, atau bisa juga skema yang telah ada diubah dan disesuaikan dengan informasi tsb.

Teori belajar kognitif juga menyatakan bahwa proses belajar seseorang melibatkan penggabungan-penggabungan (associations), yang dibagun melalui keterkaitan atau pengulangan. Sehingga para ahli teori belajar kognitif juga mengakui pentingnya penguatan (reinforcement). Mereka menekankan pentingnya pemberian umpan balik (balikan/feedback) kepada tanggapan-tanggapan yang benar dari pebelajar sebagai bentuk pendorong (motivasi).
teori belajar kognitif
Teori Belajar Kognitif
Sebenarnya teori kognitif menerima sebagian ide teori belajar behavioristik (perubahan tingkah laku). Walaupun demikian, menurut teori kognitif, belajar merupakan pelibatan penguasaan atau penataan kembali skema (struktur kognitif) yang merupakan tempat seseorang memproses dan menyimpan informasi.

Poin Kunci Teori Kognitif

Untuk lebih jelas, perhatikan beberapa poin kunci teori belajar kognitif berikut ini:
  • Semua gagasan dan citraan (image) diwakili dalam struktur kognitif yang disebut skema.
  • Jika informasi sesuai dengan skema yang sudah ada, maka informasi akan diterima.
  • Jika informasi tidak sesuai skema yang sudah ada, maka informasi diubah/disesuaikan, atau skema diubah/disesuaikan.
  • Belajar merupakan pelibatan penguasaan atau penataan kembali struktur kognitif.

Contoh Laporan Ptk

Kondisi dan Asas tentang Belajar

Kondisi dan Asas Belajar

Pembelajaran yang efektif ditandai dengan adanya suatu proses belajar. Proses belajar dapat dikatakan terjadi apabila seseorang setelahnya mengetahui atau dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui atau tidak dapat dilakukannya. Jadi hasil belajar  akan terlihat dengan adanya tingkah laku baru pada tingkat kemampuan berpikir atau tingkat kemampuan jasmaniah.

Tujuan suatu proses perancangan pembelajaran adalah membantu terjadinya proses belajar, maka guru harus menyadari dan memanfaatkan kondisi-kondisi dan asa-asas yang  telah terbukti mendukung terjadinya proses belajar tersebut dengan baik. Setiap teori belajar (misalnya teori kognitif dan behaviorisme (tingkah laku)) didasarkan pada sejumlah bukti yang telah dikumpulkan berdasarkan banyak hasil pengamatan dan eksperimen. Ada beberapa kesamaan, dan ada pula perbedaan di antara kedua teori besar tersebut sebagaimana telah kami tulis sebelumnya di blog http://penelitiantindakankelas.blogspot.com ini (Perbedaan berbagai Teori Belajar). Nah, berikut ini kami sajikan beberapa kondisi dan asas belajar yang penting menurut kedua teori belajar tersebut, terkait proses perancangan pembelajaran.

Persiapan sebelum belajar

Sebelum mengikuti suatu pelajaran, siswa-siswa seharusnya telah menguasai pengetahuan prasyarat. Kalau pengetahuan prasyarat belum dikuasai dengan baik, seringkali belajar menjadi tidak bermakna sama sekali. Mereka hanya belajar dengan menghafal saja tanpa terjadi perubahan tingkah laku apapun. Dan dijamin, dalam waktu singkat, apa yang baru saja dibelajar kepada mereka akan hilang dari memori.

Tujuan Pembelajaran

Besar kemungkinan proses belajar akan berhasil dengan baik apabila tujuan pembelajaran dinyatakan dengan jelas pada awal pembelajaran atau pokok bahasan. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh informasi yang lebih banyak dan mengingatnya dalam jangka waktu yang lebih lama apabila sasaran belajar ditulis secara cermat dan tersusun secara bersistem.

Susunan bahan ajar

Proses pembelajaran pada siswa dapat ditingkatkan apabila bahan ajar atau tata cara yang akan dipelajari oleh mereka tersusun dalam urutan yang bermakna. Kemudian, bahan pembelajaran itu harus disajikan kepada siswa dalam beberapa bagian. Banyak sedikitnya tergantung pada urutan, kerumitan, dan tingkat kesulitannya. Susunan bahan ajar yang baik dapat membantu siswa menggabungkan dan memadukan pengetahuan atau tata cara/proses melakukan sesuatu secara pribadi dan mandiri.
kondisi dan asas tentang belajar
Kondisi dan asas tentang belajar

Perbedaan antar individu

Harus diingat bahwa setiap siswa adalah individu yang unik. Mereka belajar dengan kecepatan yang berbeda-beda. Pengajaran kelompok dapat menguntungkan untuk tujuan-tujuan pembelajaran tertentu dan lebih disuaki oleh beberapa siswa. Tetapi adakalanya, siswa belajar dengan lebih baik bila mereka diberikan kebebasan menggunakan cara-cara atau metode yang dapat memuaskan jiwa mereka, menggunakan bahan yang sesuai, menurut kecepatan masing-masing.

Motivasi belajar

Proses pembelajaran pada diri seseorang hanya akan terjadi jika ada kemauan dari si pebelajar. Kemauan dan keinginan untuk belajar mempersyaratkan adanya motivasi. Keinginan sedemikian akan muncul apabila (a) pengajaran dipersiapkan  dengan baik sehingga dirasakan penting dan menarik oleh siswa; (b) tersedia berbagai pengalaman belajar; (c) siswa mengetahui bahwa bahan yang akan dipelajari akan dapat digunakan/bermanfaat sesegera mungkin; (d) adanya pengakuan terhadap keberhasilan belajar.

Sumber belajar

Jika beragam sumber belajar yang tersedia dipilih dan dipilah dengan bijak maka dapat diasumsikan proses pembelajaran pada siswa akan berhasil dengan baik.

Keikutsertaan dalam kegiatan belajar

Supaya proses pembelajaran berlangsung, maka setiap siswa harus dapat memaknai informasi yang diberikan, bukan sekedar disuapi saja. Mengikuti kegiatan pembelajaran secara aktif akan meningkatkan kualitas pembelajaran mereka. Baca: Kelebihan Pembelajaran Aktif (Active Learning).

Balikan saat belajar

Motivasi belajar dapat ditingkatkan dengan cara memberikan balikan. Balikan (feed back) dapat diberikan kepada siswa dengan secara berkala memberitahukan seberapa jauh kemajuan mereka dalam belajar. Balikan akan memperkuat pemahaman dan kinerja yang benar, memberitahukan kesalahan, dan memperbaiki proses belajar yang salah.

Penguatan saat pembelajaran

Dengan memperoleh balikan (feed back) sebagaimana disebutkan di atas, tentang jawaban dan tindakan yang dipandang berhasil, siswa akan terdorong untuk meneruskan kegiatan belajarnya. Kegiatan belajar yang didorong oleh keberhasilan menimbulkan kepuasan dan rasa percaya diri. Penguatan positif yang diberikan cenderung akan menyebabkan siswa mengulang kembali perilaku belajarnya yang positif.

Latihan dan Pengulangan

Supaya fakta dan keterampilan, atau konsep yang telah dipelajari menjadi bagian yang kuat pada diri siswa, maka perlu adanya latihan dan pengulangan. Pengulangan dan latihan  akan membantu guru menjamin bahwa pengetahuan atau perilaku yang telah diperoleh dari proses belajar akan melekat pada diri mereka.

Urutan kegiatan belajar

Tugas atau tatacara yang rumpil dapat dipelajari dengan lebih efektif apabila peragaan dan latihan diberikan secara terpadu. Pelatihan tersebut dimaksudkan untuk melatihkan bagian-bagian dari tugas atau tata cara tersebut.

Penerapan hasil belajar

Hasil penting dari kegiatan belajar adalah kemampuan menerapkan hasil belajar tersebut pada situasi baru. Apabila siswa tidak dapat melakukan hal ini, berarti mereka belum belajar dengan baik. Guru sebaiknya memberikan kesempatan khusus kepada siswa untuk menerapkan hasil pembelajarannya.

Sikap guru saat pembelajaran

Sikap positif yang diperlihatkan oleh guru baik pada materi pelajaran, siswa, metode yang digunakan, akan mempengaruhi motivasi siswa secara langsung.

Contoh Laporan Ptk

Tinjauan Umum

Mengenali siapa anak didik kita, dan berada pada tingkatan/ tahapan kognitif mana mereka amatlah penting. Pembelajaran yang dilaksanakan seorang guru tid k akan efektif apabila ia samasekali buta tentang karakteristik peserta didiknya. Tulisan di blog http://penelitiantindakankelas.blogspot.com kali ini mencoba mengangkat tentang karakteristik peserta didik/ anak ditinjau dari aspek perkembangan kognitifnya.
Jean Piaget adalah seorang ahli psikologi yang berasal dari Swiss. Hasil penelitiannya amat populer dan menjadi landasan teori kognitif. Pada dasarnya Piaget membagi perkembangan kognitif/ intelektual/ mental anak ke dalam empat (4) periode, yaitu: (1) tahap sensori-motor; (2) tahap pra-operasional; (3) tahap operasional konkret; dan (4) tahap operasional formal.
Tahapan perkembangan kognitif sebagaimana perkembangan fisik selalu mengikuti tahapan perkembangan yang ada. Hanya saja irama perkembangan dan kecepatannya berbeda-beda pada masing-masing anak. Interval umur yang diberikan oleh Piaget seperti tercantum pada tabel di bawah hanyalah berupa acuan umum saja. Berikut perincian dari keempat periode/ tahapan perkembangan kognitif anak tersebut:

Tabel Tahapan Perkembangan Kognitif (Intelektual) Anak

Periode Sifat-sifat Perubahan yang tampak

1. sensori-motor (0 -2 tahun)

Stimulus bound, dimana anak berinteraksi dengan stimulus dari luar. Lingkungan dan waktu terbatas, kemudian berkembang sampai dapat berimajinasi. Konsep tentang benda berkembang, mengembangkan tingkah laku baru, kemampuan untuk meniru. Ada usaha untuk berpikir. Gerakan tubuh merupakan aksi dari refleks, merupakan eksperimen dengan lingkungannya.

2. pra-operasional (2 – 7 tahun)

Belum sanggup melakukan operasi mental. Belum dapat membedakan antara permainan dengan kenyataan, atau belum dapat mengembangkan struktur rasional yang cukup. Masa transisi antara struktur sensori motor ke berpikir operasional. Sifat egosentris baru akan berkembang bila anak banyak berinteraksi sosial. Konsep tentang ruang dan waktu mulai bertambah. Bahasa mulai dikuasai.

3. operasional konkret (7 – 11 tahun)

Berpikir konkret, karena daya otak terbatas pada objek melalui pengamatan langsung. Dapat mengembangkan operasi mental, seperti menambah, mengurangi. Mulai mengembangkan struktur kognitif berupa ide atau konsep. Melakukan operasi logika dengan pola berpikir masih konkret. Tidak egosentris lagi. Berpikir tentang objek yang berhubungan dengan berat, warna, dan susunan. Melakukan aktivitas yang berhubungan dengan objek. Membuat keputusan logis.

4. operasional formal (11 tahun ke atas)

Pola berpikir sistematis, meliputi proses yang komplek. Pola berpikir abstrakdengan mempergunakan logika matematika. Pengertian tentang konsep waktu dan ruang telah meningkat secara signifikan. Anak telah mengerti tentang pengertian tak terbatas, alam raya dan angkasa luar.

Contoh Laporan Ptk

Jenis-Jenis Pengetahuan Menurut Teori Pemrosesan Informasi

Teori pemrosesan informasi adalah teori di bidang psikologi pendidikan yang sangat pesat perkembangannya. Dalam menjelaskan bagaimana informasi dapat diterima dan diolah oleh siswa atau peserta didik, teori pemrosesan informasi seringkali menyebut bahwa ada 3 jenis pengetahuan. Ketiga jenis pengetahuan itu adalah: (1) pengetahuan deklaratif; (2) pengetahuan prosedural; dan (3) pengetahuan kondisional. Untuk lebih memahami apa perbedaan dari ketiga jenis pengetahuan itu ikutilah paparan berikut.

Pengetahuan deklaratif adalah jenis pengetahuan dalam bentuk informasi verbal seperti fakta-fakta; pengetahuan akan sesuatu hal. Pengetahuan prosedural adalah jenis pengetahuan yang dapat didemonstrasikan saat menyelesaikan suatu masalah atau melakukan suatu tugas, atau dengan kata lain "mengetahui bagaimana...". Sedangkan pengetahuan kondisional adalah jenis pengetahuan akan "mengetahui tentang kapan dan mengapa" menggunakan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Agar lebih jelas perhatikan tabel di bawah ini yang mencontohkan bagaimana ketiga jenis pengetahuan tersebut:

Jenis Pengetahuan

Pengetahuan Secara Umum

Pengetahuan Pada Bidang Khusus/Tertentu

Pengetahuan Deklaratif

  • Waktu perpustakaan buka/masih buka
  • Aturan grammar
  • Definisi metabolisme 
  • Baris-baris puisi"Aku"

Pengetahuan Prosedural

  • Bagaimana menggunakan program microsoft word. 
  • Bagaimana mengemudikan mobil
  • Bagaimana menyelesaikan persamaan redoks. 
  • Bagaimana menghitung massa jenis suatu zat

Pengetahuan Kondisional

  • Kapan berhenti menggunakan suatu cara ketika mengalami kegagalan dan mencoba menggunakan cara lain. 
  • Kapan harus membaca secara cepat (skimming) dan kapan harus membaca perlahan dan hati-hati
  • Kapan harus menggunakan suatu rumus tertentu dalam menghitung volume. 
  • Kapan bergegas secepat kilat menuju net dan memukul shuttlecock untuk memberikan smash

Contoh Laporan Ptk

Jenis-Jenis Pengetahuan Menurut Teori Pemrosesan Informasi

Teori pemrosesan informasi adalah teori di bidang psikologi pendidikan yang sangat pesat perkembangannya. Dalam menjelaskan bagaimana informasi dapat diterima dan diolah oleh siswa atau peserta didik, teori pemrosesan informasi seringkali menyebut bahwa ada 3 jenis pengetahuan. Ketiga jenis pengetahuan itu adalah: (1) pengetahuan deklaratif; (2) pengetahuan prosedural; dan (3) pengetahuan kondisional. Untuk lebih memahami apa perbedaan dari ketiga jenis pengetahuan itu ikutilah paparan berikut.

Pengetahuan deklaratif adalah jenis pengetahuan dalam bentuk informasi verbal seperti fakta-fakta; pengetahuan akan sesuatu hal. Pengetahuan prosedural adalah jenis pengetahuan yang dapat didemonstrasikan saat menyelesaikan suatu masalah atau melakukan suatu tugas, atau dengan kata lain "mengetahui bagaimana...". Sedangkan pengetahuan kondisional adalah jenis pengetahuan akan "mengetahui tentang kapan dan mengapa" menggunakan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Agar lebih jelas perhatikan tabel di bawah ini yang mencontohkan bagaimana ketiga jenis pengetahuan tersebut:

Jenis Pengetahuan

Pengetahuan Secara Umum

Pengetahuan Pada Bidang Khusus/Tertentu

Pengetahuan Deklaratif

  • Waktu perpustakaan buka/masih buka
  • Aturan grammar
  • Definisi metabolisme 
  • Baris-baris puisi"Aku"

Pengetahuan Prosedural

  • Bagaimana menggunakan program microsoft word. 
  • Bagaimana mengemudikan mobil
  • Bagaimana menyelesaikan persamaan redoks. 
  • Bagaimana menghitung massa jenis suatu zat

Pengetahuan Kondisional

  • Kapan berhenti menggunakan suatu cara ketika mengalami kegagalan dan mencoba menggunakan cara lain. 
  • Kapan harus membaca secara cepat (skimming) dan kapan harus membaca perlahan dan hati-hati
  • Kapan harus menggunakan suatu rumus tertentu dalam menghitung volume. 
  • Kapan bergegas secepat kilat menuju net dan memukul shuttlecock untuk memberikan smash

Contoh Laporan Ptk

Jenis-Jenis Pengetahuan Menurut Teori Pemrosesan Informasi

Teori pemrosesan informasi adalah teori di bidang psikologi pendidikan yang sangat pesat perkembangannya. Dalam menjelaskan bagaimana informasi dapat diterima dan diolah oleh siswa atau peserta didik, teori pemrosesan informasi seringkali menyebut bahwa ada 3 jenis pengetahuan. Ketiga jenis pengetahuan itu adalah: (1) pengetahuan deklaratif; (2) pengetahuan prosedural; dan (3) pengetahuan kondisional. Untuk lebih memahami apa perbedaan dari ketiga jenis pengetahuan itu ikutilah paparan berikut.

Pengetahuan deklaratif adalah jenis pengetahuan dalam bentuk informasi verbal seperti fakta-fakta; pengetahuan akan sesuatu hal. Pengetahuan prosedural adalah jenis pengetahuan yang dapat didemonstrasikan saat menyelesaikan suatu masalah atau melakukan suatu tugas, atau dengan kata lain "mengetahui bagaimana...". Sedangkan pengetahuan kondisional adalah jenis pengetahuan akan "mengetahui tentang kapan dan mengapa" menggunakan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Agar lebih jelas perhatikan tabel di bawah ini yang mencontohkan bagaimana ketiga jenis pengetahuan tersebut:

Jenis Pengetahuan

Pengetahuan Secara Umum

Pengetahuan Pada Bidang Khusus/Tertentu

Pengetahuan Deklaratif

  • Waktu perpustakaan buka/masih buka
  • Aturan grammar
  • Definisi metabolisme 
  • Baris-baris puisi"Aku"

Pengetahuan Prosedural

  • Bagaimana menggunakan program microsoft word. 
  • Bagaimana mengemudikan mobil
  • Bagaimana menyelesaikan persamaan redoks. 
  • Bagaimana menghitung massa jenis suatu zat

Pengetahuan Kondisional

  • Kapan berhenti menggunakan suatu cara ketika mengalami kegagalan dan mencoba menggunakan cara lain. 
  • Kapan harus membaca secara cepat (skimming) dan kapan harus membaca perlahan dan hati-hati
  • Kapan harus menggunakan suatu rumus tertentu dalam menghitung volume. 
  • Kapan bergegas secepat kilat menuju net dan memukul shuttlecock untuk memberikan smash

Contoh Laporan Ptk

Jenis-Jenis Pengetahuan Menurut Teori Pemrosesan Informasi

Teori pemrosesan informasi adalah teori di bidang psikologi pendidikan yang sangat pesat perkembangannya. Dalam menjelaskan bagaimana informasi dapat diterima dan diolah oleh siswa atau peserta didik, teori pemrosesan informasi seringkali menyebut bahwa ada 3 jenis pengetahuan. Ketiga jenis pengetahuan itu adalah: (1) pengetahuan deklaratif; (2) pengetahuan prosedural; dan (3) pengetahuan kondisional. Untuk lebih memahami apa perbedaan dari ketiga jenis pengetahuan itu ikutilah paparan berikut.

Pengetahuan deklaratif adalah jenis pengetahuan dalam bentuk informasi verbal seperti fakta-fakta; pengetahuan akan sesuatu hal. Pengetahuan prosedural adalah jenis pengetahuan yang dapat didemonstrasikan saat menyelesaikan suatu masalah atau melakukan suatu tugas, atau dengan kata lain "mengetahui bagaimana...". Sedangkan pengetahuan kondisional adalah jenis pengetahuan akan "mengetahui tentang kapan dan mengapa" menggunakan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Agar lebih jelas perhatikan tabel di bawah ini yang mencontohkan bagaimana ketiga jenis pengetahuan tersebut:

Jenis Pengetahuan

Pengetahuan Secara Umum

Pengetahuan Pada Bidang Khusus/Tertentu

Pengetahuan Deklaratif

  • Waktu perpustakaan buka/masih buka
  • Aturan grammar
  • Definisi metabolisme 
  • Baris-baris puisi"Aku"

Pengetahuan Prosedural

  • Bagaimana menggunakan program microsoft word. 
  • Bagaimana mengemudikan mobil
  • Bagaimana menyelesaikan persamaan redoks. 
  • Bagaimana menghitung massa jenis suatu zat

Pengetahuan Kondisional

  • Kapan berhenti menggunakan suatu cara ketika mengalami kegagalan dan mencoba menggunakan cara lain. 
  • Kapan harus membaca secara cepat (skimming) dan kapan harus membaca perlahan dan hati-hati
  • Kapan harus menggunakan suatu rumus tertentu dalam menghitung volume. 
  • Kapan bergegas secepat kilat menuju net dan memukul shuttlecock untuk memberikan smash

Contoh Laporan Ptk

Jenis-Jenis Pengetahuan Menurut Teori Pemrosesan Informasi

Teori pemrosesan informasi adalah teori di bidang psikologi pendidikan yang sangat pesat perkembangannya. Dalam menjelaskan bagaimana informasi dapat diterima dan diolah oleh siswa atau peserta didik, teori pemrosesan informasi seringkali menyebut bahwa ada 3 jenis pengetahuan. Ketiga jenis pengetahuan itu adalah: (1) pengetahuan deklaratif; (2) pengetahuan prosedural; dan (3) pengetahuan kondisional. Untuk lebih memahami apa perbedaan dari ketiga jenis pengetahuan itu ikutilah paparan berikut.

Pengetahuan deklaratif adalah jenis pengetahuan dalam bentuk informasi verbal seperti fakta-fakta; pengetahuan akan sesuatu hal. Pengetahuan prosedural adalah jenis pengetahuan yang dapat didemonstrasikan saat menyelesaikan suatu masalah atau melakukan suatu tugas, atau dengan kata lain "mengetahui bagaimana...". Sedangkan pengetahuan kondisional adalah jenis pengetahuan akan "mengetahui tentang kapan dan mengapa" menggunakan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Agar lebih jelas perhatikan tabel di bawah ini yang mencontohkan bagaimana ketiga jenis pengetahuan tersebut:

Jenis Pengetahuan

Pengetahuan Secara Umum

Pengetahuan Pada Bidang Khusus/Tertentu

Pengetahuan Deklaratif

  • Waktu perpustakaan buka/masih buka
  • Aturan grammar
  • Definisi metabolisme 
  • Baris-baris puisi"Aku"

Pengetahuan Prosedural

  • Bagaimana menggunakan program microsoft word. 
  • Bagaimana mengemudikan mobil
  • Bagaimana menyelesaikan persamaan redoks. 
  • Bagaimana menghitung massa jenis suatu zat

Pengetahuan Kondisional

  • Kapan berhenti menggunakan suatu cara ketika mengalami kegagalan dan mencoba menggunakan cara lain. 
  • Kapan harus membaca secara cepat (skimming) dan kapan harus membaca perlahan dan hati-hati
  • Kapan harus menggunakan suatu rumus tertentu dalam menghitung volume. 
  • Kapan bergegas secepat kilat menuju net dan memukul shuttlecock untuk memberikan smash

Contoh Laporan Ptk

Contoh-Contoh Keterampilan Berpikir Kritis

Contoh-Contoh Keterampilan Berpikir Kritis

Keterampilan berpikir kritis adalah salah satu dari keterampilan berpikir tingkat tinggi. Katerampilan berpikir kritis banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, karenanya, mempelajari keterampilan berpikir kritis bagi siswa, atau mengajarkan keterampilan berpikir kritis bagi guru sangat penting. Berpikir kritis adalah mengevaluasi konklusi-konklusi (kesimpulan-kesimpulan) berdasarkan pengujian terhadap suatu masalah, kejadian, atau pemecahan masalah secara logis dan sistematis.

Para ahli psikologi menganggap kajian tentang keterampilan berpikir kritis amat menarik dan penting untuk dipelajari. Hingga kini ada banyak pendapat dan gagasan tentang bagaimana sebaiknya cara mengajarkan keterampilan berpikir kritis ini untuk siswa. Untuk lebih memahami apa itu keterampilan berpikir kritis, mungkin contoh-contoh dan tingkatan keterampilan berpikir kritis yang disajikan pada tabel di bawah ini dapat bermanfaat untuk anda.

Tabel Contoh-Contoh Keterampilan Berpikir Kritis

Tingkatan/Jenis Keterampilan Berpikir Kritis

Contoh Keterampilan Berpikir Kritis

Mendefinisikan dan Mengklarifikasi Masalah
  1. Mengidentifikasi isu sentral atau masalah. 
  2. Mengkomparasi persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan. 
  3. Menentukan manakah informasi yang relevan. 
  4. Memformulasi pertanyaan-pertanyaan dengan tepat.
Menentukan Informasi-Informasi yang Relevan dengan Masalah
  1. Membedakan antara fakta, opini, dan keputusan logis. 
  2. Mengecek konsistensi. 
  3. Mengenali stereotip dan klise. 
  4. Mengenali bias, faktor-faktor emosional, propaganda, dan istilah semantik. 
  5. Mengenali nilai sistem dan ideologi yang berbeda.
Menyelesaikan Masalah / Menggambarkan Konklusi
  1. Mengenali ketepatan data. 
  2. Memprediksi kemungkinan-kemungkinan konsekuensi

Contoh Laporan Ptk

4 Pandangan Tentang Motivasi belajar

4 Pandangan Tentang Motivasi belajar

Ada 4 pandangan utama dalam hal kajian tentang motivasi belajar. keempat pandangan ini mewakili teori belajar masing-masing. Berikut adalah keempat pandangan utama tentang motivasi belajar tersebut, disajikan dalam tabel di bawah ini:

Tabel Perbandingan 4 Pandangan Teori Belajar tentang Motivasi Belajar


Teori Belajar / Teori Motivasi Sumber Motivasi Faktor yang Berpengaruh Ahli Motivasi
Behavioral / Tingkah Laku Penguatan ekstrinsik penguatan, reward (penghargaan), insentif, hadiah,dan hukuman Skinner
Humanistik Penguatan intrinsik Kebutuhan akan percaya diri, pemuasan diri, aktualisasi diri Maslow, Deci
Kognitif Penguatan intrinsik Rasa percaya, keyakinan, atribusi sukses dan gagal, harapan Weiner, Covington
Pembelajaran Sosial Penguatan ekstrinsik dan penguatan intrinsik nilai tujuan, harapan untuk mencapai tujuan Bandura

Contoh Ptk SD

Prinsip-Prinsip Psikologi yang Berpusat pada Siswa : Faktor Kognisi dan Metakognisi

Prinsip-Prinsip Psikologi yang Berpusat pada Siswa (Student Centered Learning)

Menurut APA (American Psychological Association, 1997) ada 14 prinsip psikologi yang berpusat pada siswa terkait faktor kognisi (kognitif) dan metakognisi (metakognitif), yaitu:
  1. Hakikat Proses Pembelajaran

    Pembelajaran pokok bahasan yang rumit akan sangat efektif apabila hal itu merupakan proses yang intensional untuk membentuk makna dari informasi dan pengalaman.
  2. Tujuan Proses Pembelajaran

    Siswa yang berhasil, dari waktu ke waktu dan dengan panduan pembelajaran bermakna (meaningful learning) , akan dapat menciptakan penyajian pengetahuan yang bermakna dan koheren.
  3. Konstruksi Pengetahuan

    Siswa yang berhasil dapat menciptakan hubungan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya sebelumnya dengan cara bermakna.
  4. Pemikiran Strategis

    Siswa yang berhasil dapat menciptakan dan menggunakan persediaan strategi pemikiran dan penalaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang rumit.
  5. Pemikiran Tentang Pemikiran

    Strategi tingkat tinggi untuk memilih dan memantau cara kerja pikirannya sendiri, sehingga mempermudah munculnya pemikiran yang kreatif dan kritis.
  6. Konteks Pembelajaran

    Pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, termasuk budaya, teknologi, dan praktek pembelajaran.
  7. Pengaruh Motivasi dan Emosi Terhadap Pembelajaran

    Apa dan berapa banyak yang dipelajari dipengaruhi oleh motivasi. Motivasi belajar selanjutnya akan dipengaruhi keadaan emosi, keyakinan, minat, dan tujuan, dan kebiasaan berpikir seseorang.
  8. Motivasi Intrinsik Untuk Belajar

    Kreativitas, pemikiran tingkat tinggi dan keingintahuan alami siswa, semuanya mempunyai peranan terhadap motivasi untuk belajar. Motivasi intrinsik dirangsang oleh tugas-tugas yang sangat baru dan sulit, relevan bagi minat pribadi, dan memungkinkan pilihan, serta pengendalian pribadi.
  9. Dampak Motivasi Pada Upaya Belajar

    Perolehan pengetahuan dan kemampuan yang rumit memerlukan upaya siswa yang luas dalam latihan terbimbing. Tanpa motivasi siswa untuk belajar, kesediaan melakukan upaya ini tidak akan mungkin tanpa paksaan.
  10. Pengaruh Perkembangan Terhadap Pembelajaran

    Ketika setiap siswa berkembang, mereka berhadapan dengan peluang-peluang berbeda dan mengalami hambatan-hambatan yang berbeda untuk pem,belajaran. Pembelajaran akan paling efektif apabila perkembangan yang berbeda di dalam dan seluruh ranah fisik, intelektual, emosi, dan sosial dipertimbangkan.
  11. Pengaruh Sosial Terhadap Pembelajaran

    Pembelajaran dipengaruhi oleh interaksi sosial, hubungan antar pribadi dan komunikasi dengan orang lain.
  12. Perbedaan Individu dalam Pembelajaran

    Siswa mempunyai strategi, pendekatan, dan kemampuan yang berbeda untuk pembelajaran sebagai fungsi dari pengalaman dan warisan sebelumnya.
  13. Pembelajaran dan Keberagaman

    Pembelajaran akan paling efektif apabila perbedaan latar belakang bahasa, budaya, dan sosial siswa dipertimbangkan.
  14. Standar dan Penilaian

    Penentuan dengan tepat standar penilaian yang tinggi dan menantang adalah bagian integral dariproses pembelajaran tersebut.

Contoh Ptk SD

Prinsip-Prinsip Psikologi yang Berpusat pada Siswa : Faktor Kognisi dan Metakognisi

Prinsip-Prinsip Psikologi yang Berpusat pada Siswa (Student Centered Learning)

Menurut APA (American Psychological Association, 1997) ada 14 prinsip psikologi yang berpusat pada siswa terkait faktor kognisi (kognitif) dan metakognisi (metakognitif), yaitu:
  1. Hakikat Proses Pembelajaran

    Pembelajaran pokok bahasan yang rumit akan sangat efektif apabila hal itu merupakan proses yang intensional untuk membentuk makna dari informasi dan pengalaman.
  2. Tujuan Proses Pembelajaran

    Siswa yang berhasil, dari waktu ke waktu dan dengan panduan pembelajaran bermakna (meaningful learning) , akan dapat menciptakan penyajian pengetahuan yang bermakna dan koheren.
  3. Konstruksi Pengetahuan

    Siswa yang berhasil dapat menciptakan hubungan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya sebelumnya dengan cara bermakna.
  4. Pemikiran Strategis

    Siswa yang berhasil dapat menciptakan dan menggunakan persediaan strategi pemikiran dan penalaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang rumit.
  5. Pemikiran Tentang Pemikiran

    Strategi tingkat tinggi untuk memilih dan memantau cara kerja pikirannya sendiri, sehingga mempermudah munculnya pemikiran yang kreatif dan kritis.
  6. Konteks Pembelajaran

    Pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, termasuk budaya, teknologi, dan praktek pembelajaran.
  7. Pengaruh Motivasi dan Emosi Terhadap Pembelajaran

    Apa dan berapa banyak yang dipelajari dipengaruhi oleh motivasi. Motivasi belajar selanjutnya akan dipengaruhi keadaan emosi, keyakinan, minat, dan tujuan, dan kebiasaan berpikir seseorang.
  8. Motivasi Intrinsik Untuk Belajar

    Kreativitas, pemikiran tingkat tinggi dan keingintahuan alami siswa, semuanya mempunyai peranan terhadap motivasi untuk belajar. Motivasi intrinsik dirangsang oleh tugas-tugas yang sangat baru dan sulit, relevan bagi minat pribadi, dan memungkinkan pilihan, serta pengendalian pribadi.
  9. Dampak Motivasi Pada Upaya Belajar

    Perolehan pengetahuan dan kemampuan yang rumit memerlukan upaya siswa yang luas dalam latihan terbimbing. Tanpa motivasi siswa untuk belajar, kesediaan melakukan upaya ini tidak akan mungkin tanpa paksaan.
  10. Pengaruh Perkembangan Terhadap Pembelajaran

    Ketika setiap siswa berkembang, mereka berhadapan dengan peluang-peluang berbeda dan mengalami hambatan-hambatan yang berbeda untuk pem,belajaran. Pembelajaran akan paling efektif apabila perkembangan yang berbeda di dalam dan seluruh ranah fisik, intelektual, emosi, dan sosial dipertimbangkan.
  11. Pengaruh Sosial Terhadap Pembelajaran

    Pembelajaran dipengaruhi oleh interaksi sosial, hubungan antar pribadi dan komunikasi dengan orang lain.
  12. Perbedaan Individu dalam Pembelajaran

    Siswa mempunyai strategi, pendekatan, dan kemampuan yang berbeda untuk pembelajaran sebagai fungsi dari pengalaman dan warisan sebelumnya.
  13. Pembelajaran dan Keberagaman

    Pembelajaran akan paling efektif apabila perbedaan latar belakang bahasa, budaya, dan sosial siswa dipertimbangkan.
  14. Standar dan Penilaian

    Penentuan dengan tepat standar penilaian yang tinggi dan menantang adalah bagian integral dariproses pembelajaran tersebut.

10 Definisi Berpikir Kritis

10 Definisi Berpikir Kritis

Berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan tingkat tinggi yang sangat penting diajarkan kepada siswa selain keterampilan berpikir kreatif. Apa itu berpikir kritis? Berikut ini disajikan 10 buah definisi mengenai berpikir kritis (keterampilan berpikir kritis).
  1. Definisi berpikir kritis menurut Ennis (1962) : Berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan.
  2. Definisi berpikir kritis menurut Beyer (1985) : Berpikir kritis adalah kemampuan (1) menentukan kredibilitas suatu sumber, (2) membedakan antara yang relevan dari yang tidak relevan, (3) membedakan fakta dari penilaian, (4) mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak terucapkan, (5) mengidentifikasi bias yang ada, (6) mengidentifikasi sudut pandang, dan (7) mengevaluasi bukti yang ditawarkan untuk mendukung pengakuan.
  3. Definisi berpikir kritis menurut Mustaji (2012): Berpikir kristis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Berikut adalah contoh-contoh kemampuan berpikir kritis, misalnya (1) membanding dan membedakan, (2) membuat kategori, (2) meneliti bagian-bagian kecil dan keseluruhan, (3) menerangkan sebab, (4) membuat sekuen / urutan, (5) menentukan sumber yang dipercayai, dan (6) membuat ramalan.
  4. Definisi berpikir kritis menurut Walker (2006) :Berpikir kritis adalah suatu proses intelektual dalam pembuatan konsep, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan atau mengevaluasi berbagai informasi yang didapat dari hasil observasi, pengalaman, refleksi, di mana hasil proses ini diguanakan sebagai dasar saat mengambil tindakan.
  5. Definisi berpikir kritis menurut Hassoubah (2007):Berpikir kritis adalah kemampuan memberi alasan secara terorganisasi dan  mengevaluasi kualitas suatu alasan secara sistematis.
  6. Definisi berpikir kritis menurut Chance (1986) :Berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis fakta, mencetuskan dan menata gagasan, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan, menarik kesimpulan, mengevaluasi argumen dan memecahkan masalah.
  7. Definisi berpikir kritis menurut Mertes (1991) :Berpikir kritis adalah sebuah proses yang sadar dan sengaja yang digunakan untuk menafsirkan dan mengevaluasi informasi dan pengalaman dengan sejumlah sikap reflektif dan kemampuan yang memandu keyakinan dan tindakan.
  8. Definisi berpikir kritis menurut Paul (1993) :Berpikir kritis adalah mode berpikir – mengenai hal, substansi atau masalah apa saja – di mana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya.
  9. Definisi berpikir kritis menurut Halpern (1985) :Berpikir kritis adalah pemberdayaan kognitif dalam mencapai tujuan.
  10. Definisi berpikir kritis menurut Angelo (1995):Berpikir kritis adalah mengaplikasikan rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, meliputi kegiatan menganalisis, mensintesis, mengenali permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan serta mengevaluasi.

Daftar Pustaka:


Ennis, Robert H. 1962. A concept of critical thinking. Harvard Educational Review, Vol 32(1), 81-111.

Beyer, Barry K. (1985). Critical Thinking. Phi Delta Kappa, 408 N. Union, P.O. Box 789, Bloomington, IN 47402-0789.

Mustaji (2012). Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Pembelajaran. Tersedia online: http://pasca.tp.ac.id/site/pengembangan-kemampuan-berpikir-kritis-dan-kreatif-dalam-pembelajaran diakses tanggal 23-12-2012.

Hossoubah,  Z. (2007). Develoving Creative and Critical Thinking Skills (terjemahan) . Bandung: Yayasan Nuansa Cendia.

Chance, P. (1986). Thinking in the classroom: A survey of programs. New York: Teachers College, Columbia University.

Mertes (1991). Thinking and Writing. Middle School Journ. 22: 24-25.

Halpern, Diane F. (1989). Thought and knowledge: An introduction to critical thinking (2nd ed.). Hillsdale, NJ, England: Lawrence Erlbaum Associates, Inc. xvii 517 pp.

Angelo, Thomas A. & Cross, Patricia (1995). Classroom Assessment Techniques: A Handbook for College Teachers, 2nd edition.

Paul, Richard (1993).Critical Thinking: How to Prepare Students for a Rapidly Changing World. Foundation for Critical Thinking.

Walker, Paul & Finney, Nicholas. (1999). Skill Development and Critical Thinking in Higher Education. Higher Education Research & Development Unit, University College, London WC1E 6BT, UK

Artikel lainnya tentang Berpikir Kritis:

Contoh Keterampilan Berpikir Kritis

10 Keterampilan Berpikir Kritis Menurut Beyer (1988)

10 Keterampilan Berpikir Kritis Menurut Beyer (1988)

Setelah sebelumnya blog http://penelitiantindakankelas.blogspot.com memposting artikel berjudul 10 definisi berpikir kritis, maka kali ini blog sederhana ini akan kembali mengulas keterampilan berpikir, yaitu tentang 10 keterampilan berpikir kritis. Beyer (1988) mengidentifikasi 10 keterampilan berpikir kritis yang dapat dipakai siswa untuk menilai kebenaran pernyataan atau argumen, memahami iklan, dan sebagainya, yaitu sebagai berikut:

  1. Membedakan mana fakta variabel dan pernyataan nilai.
  2. Membedakan informasi, pernyataan, atau alasan yang relevan, dari pernyataan atau alasan yang tidak relevan.
  3. Menentukan apakah suatu fakta pernyataan itu tepat atau tidak.
  4. Menentukan apakah suatu sumber kredibel atau tidak.
  5. Mengidentifikasi argumen atau pernyataan yang ambigu (menyesatkan dan bermakna ganda).
  6. Mengidentifikasi asumsi-asumsi yang tidak secara langsung dinyatakan (tersirat).
  7. Mendeteksi adanya prasangka.
  8. Mengidentifikasi kesalahan logika.
  9. Mengidentifikasi tidak adanya konsistensi logika dalam suatu garis pemikiran atau ide.
  10. Menentukan kekuatan argumen atau pernyataan.

Perlu diperhatikan bahwa ke-10 keterampilan di atas bukanlah suatu urutan atau tahapan, tetapi lebih pada kemungkinan-kemungkinan cara yang dapat dipakai siswa untuk melakukan pendekatan terhadap suatu informasi untuk mengevaluasi apakah informasi tersebut betul atau dapat dipercaya, atau sebaliknya.

Artikel lainnya tentang keterampilan berpikir kritis:

https://adf.ly/publisher

VerVal NUPTK : Daftar 56 Pertanyaan Evaluasi Diri untuk Guru

Bapak dan Ibu Guru, sudah mengisi evaluasi diri untuk VerVal NUPTK? Kali ini blog Penelitian Tindakan Kelas akan memberikan informasi tentang Daftar Pertanyaan Evaluasi Diri untuk Guru Pada Saat VerVal NUPTK. Ada 56 pertanyaan yang harus dijawab dalam evaluasi diri ini. Yuk Disimak.

Daftar Pertanyaan Evaluasi Diri Guru Saat Proses VerVal NUPTK

Untuk mengisi evaluasi diri ini, Bapak/Ibu Guru diminta menjawab secara obyektif sesuai kondisi Bapak/Ibu sendiri. Hampir semua pertanyaan dapat dijawab lebih dari satu jawaban.

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
G.1.5
Permasalahan sikap dan perilaku peserta didik yang masih ditemukan adalah :
  • mencontek saat ujian
  • tidak mengerjakan tugas yang diberikan
  • menyalin tugas dari pekerjaan temannya
  • bolos tanpa alasan yang jelas dan dapat diterima
  • malas belajar
  • terlibat tawuran
  • terlibat narkoba
  • sering telat masuk sekolah
  • tidak menghormati guru dan orang lain
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.1.6
Sikap dan perilaku yang dapat dibanggakan dari mayoritas peserta didik di sekolah bapak/ibu adalah:
  • giat belajar dan rajin membaca
  • membantu teman/orang lain dan hormat pada guru
  • disiplin dan mematuhi tatatertib sekolah
  • melaksanakan ajaran agama yang dianutnya
  • sportif dalam bertindak
  • berani mengakui kesalahan
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.1.7
Sikap dan perilaku jujur, santun, perduli, disiplin, percaya diri, dan bertanggungjawab yang dapat diamati dalam perilaku siswa serta dapat dibuktikan dengan dokumen penilaian sikap siswa adalah
  • secara konsisten ditunjukkan ketika berada di sekolah
  • sesuai dengan kondisi yang dilaporkan oleh orang tua siswa ketika berada di rumah
  • ditunjukkan ketika siswa berinteraksi dengan semua orang
  • menghormati orang yang berlaku
  • tidak ada jawaban yang sesuai
G.1.8
Pengetahuan peserta didik di sekolah bapak/ibu pada umumnya, dan dapat ditunjukkan buktinya dalam penilaian yang telah dilakukan adalah :
  • mampu menghapal cukup banyak informasi yang diajarkan
  • mampu menjelaskan kembali sebuah informasi yang dipelajari dengan kalimat sendiri
  • mampu menerapkan suatu konsep untuk menjelaskan sebuah fenomena alam atau sosial
  • mampu mengidentifikasi variabel yang terkait dengan suatu permasalahan
  • mampu menerapkan sebuah prosedur untuk menyelesaikan permasalahan
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.1.9
Kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi pada umumnya adalah sebagai berikut :
  • mampu membaca cepat dan membuat rangkuman dari informasi tertulis
  • mampu menyampaikan ide dan pendapat secara santun dan mudah dipahami
  • menyimak informasi secara tepat dan mampu menyampaikan kembali dengan kalimat sendiri
  • mampu melakukan telaah secara kritis kritis terhadap teks atau buku
  • membuat karya tulis dengan deskripsi yang berkesinambungan dan mudah dipahami
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.1.10
Kemampuan peserta didik di sekolah pada umumnya dalam mengamati, mencoba, mengolah, dan menyajikan pemikiran dan tindakan produktif serta kreatif, serta dapat dibuktikan bukti penilaiannya adalah:
  • melakukan pengamatan dengan petunjuk yang jelas
  • melakukan percobaan/ekplorasi
  • menganalisis hasil percobaan/ekplorasi
  • menyajikan hasil percobaan/ekplorasi
  • membuat dan menyajikan hasil karya yang bagus
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.1.11
Kemampuan peserta didik dalam menghasilkan karya, pada umumnya dapat dikelompokkan sebagai :
  • hasil meniru karya orang lain
  • hasil modifikasi karya orang lain
  • hasil kreasi sendiri sesuai dengan fasilitas yang tersedia

G.2.2
Rancangan metode pembelajaran yang dikembangkan dalam kurikulum sekolah Bapak/Ibu yang mendukung pembelajaran aktif (student active learning) adalah
  • ceramah
  • diskusi dan tanya jawab
  • demonstrasi
  • penemuan terbimbing
  • pemecahan masalah
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.2.5
Dokumen yang digunakan sebagai acuan dalam pengembangan KTSP di sekolah Bapak/Ibu adalah
  • Standar Isi
  • Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
  • Standar proses
  • Standar penilaian
  • Panduan penyusunan KTSP yang disusun BSNP
  • Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan dari sekolah di negara maju
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.2.6
Proses pengembangan KTSP di sekolah Bapak/Ibu adalah
  • Mengadopsi dan mengadaptasi model yang dikembangkan oleh BSNP
  • Mengembangkan KTSP melalui KKG/KKS/MGMP
  • Mengembangkan KTSP sendiri dengan mengacu panduan yang disusun BSNP
  • Mengembangkan KTSP sendiri dengan mengacu kurikulum sekolah di negara maju
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.2.7
KTSP yang bapak/ibu kembangkan dibuat berdasarkan prinsip-prinsip
  • Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya
  • Beragam dan terpadu
  • Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
  • Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
  • Menyeluruh dan berkesinambungan
  • Belajar sepanjang hayat
  • Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.2.9
Jenis penilaian yang diterapkan dalam KTSP di sekolah bapak/ibu adalah
  • tes tertulis
  • tes lisan
  • pengamatan kinerja
  • pengukuran sikap
  • penilaian hasil karya berupa tugas
  • penilaian proyek
  • penilaian produk
  • portofolio
  • penilaian diri
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.2.10
Materi ajar yang dimuat dalam kurikulum sekolah bapak/ibu, memenuhi syarat
  • Sahih (teruji kebenarannya)
  • Signifikan (bermanfaat dalam pencapaian kompetensi)
  • Bermanfaat secara akademis dan non akademis
  • Kelayakan (mempertimbangkan taraf berpikir peserta didik)
  • Relevan, konsisten, dan edukatif
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.2.11
Komposisi materi pelajaran yang dimuat dalam RPP bapak/ibu adalah :
  • dominan pada aspek sikap dan perilaku
  • dominan pada aspek pengetahuan
  • dominan pada aspek keterampilan
  • proporsi sikap, pengetahuan, dan ketrerampilan dibuat merata

G.2.12
Materi kurikulum di sekolah bapak/ibu, disesuaikan untuk:
  • Mengembangkan ketrampilan berpikir kritis
  • Mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah
  • Mengembangkan budaya membaca dan menulis untuk menumbuhkan budaya gemar membaca
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.2.13
Keterkaitan materi dengan kebutuhan peserta didik yang dicakup dalam RPP bapak/ibu dibuat dengan:
  • Sesuai perkembangan usia peserta didik
  • Mengembangkan karakter mulia.
  • Memperhatikan gender
  • Memperhatikan karakeristik lingkungan sekitar peserta didik
  • Memperhatikan kehidupan sosial peserta didik
  • Mengembangkan sikap nasionalisme dalam kehidupan bernegara.
  • Memfasilitasi penggunaan teknologi
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.1
Kegiatan yang dilaksanakan oleh bapak/ibu di sekolah terkait dengan perencanaan pembelajaran meliputi
  • Menganalisis kompetensi yang akan diperoleh siswa
  • Menetapkan materi ajar
  • Memilih model/metode belajar yang relevan
  • Menentukan dan mengevaluasi buku sumber yang digunakan
  • Menyusun bahan ajar sesuai karakteristik peserta didik
  • Menyusun penilaian yang relevan
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.2
Perancangan RPP yang disusun guru di sekolah bapak/ibu telah memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
  • Memperhatikan perbedaan individu
  • Mendorong partisipasi aktif peserta didik
  • Mengembangkan budaya membaca dan menulis
  • Umpan balik dan tindak lanjut
  • Keterkaitan dan keterpaduan antara SKL-standar isi-materi-kegiatan belajar-penilaian
  • Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi
  • Metode pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menarik
  • Pemilihan media yang sesuai
  • Penggunaan sumber belajar yang relevan
  • Penggunaan penilaian autentik
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.3
Hal-hal yang disampaikan oleh guru pada awal semester kepada peserta didik adalah:
  • kompetensi yang akan dicapai
  • cakupan materi ajar
  • rancangan tugas selama satu semester
  • tugas mandiri dan tugas kelompok yang harus dikerjakan
  • penilaian yang akan dilakukan
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.4
Aktifitas yang dilakukan oleh bapak/ibu untuk memperbaiki proses pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi peserta didik adalah
  • Melakukan remedial untuk peserta didik yang belum tuntas belajar
  • Melakukan refleksi proses pembelajaran dan memperbaiki pembelajaran
  • Menganalisis daya serap peserta didik dan memperbaiki pembelajaran
  • Mengecek gaya belajar peserta didik dan menyesuaikan pembelajaran
  • Berkomunikasi dengan teman sejawat atau KKG/MGMP untuk mempersiapkan PBM yang lebih baik
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.10
Sumber belajar yang bapak/ibu gunakan dalam pembelajaran adalah :
  • Buku teks dan lembar kerja dari penerbit tertentu
  • Buku teks yang dikembangkan sendiri atau oleh kelompok guru
  • Buku panduan
  • Ensiklopedia atau kamus
  • Majalah dan/atau Koran
  • Internet
  • Diktat yang dikembangkan sendiri
  • Modul belajar
  • Nara sumber yang menguasai bidangnya
  • Perpustakaan atau museum
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.17
Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan di sekolah untuk membentuk karakter (sikap dan perilaku) peserta didik adalah
  • Melaksanakan program sekolah dan tatatertib untuk pembentukan karakter jujur, disiplin, dan bertanggungjawab
  • Melaksanakan pembelajaran yang memiliki dampak langsung terhadap pembentukan karakter jujur, disiplin, tanggungjawab, dan menghargai orang lain
  • Melaksanakan pembelajaran yang menyadarkan akan pentingnya memiliki karakter jujur, disiplin, dan bertanggungjawab
  • Melaksanakan kegiatan ekstra kurikuler yang memiliki dampak terhadap pembentukan karakter jujur, disiplin, bertanggungjawab, dan menghargai orang lain
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.19
Pelaksanaan pembelajaran yang bapak/ibu lakukan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi siswa secara efektif dan santun:
  • Memperbanyak aktifitas siswa dalam membaca, menulis dan berbicara dalam belajar
  • Memberi tugas belajar berupa telaah buku dan membuat karya tulis
  • Melakukan aktifitas belajar berkelompok
  • Memberi tugas mengumpulkan informasi dari berbagai sumber
  • Memberi tugas berkomunikasi dengan anggota masyarakat untuk kepentingan belajar
  • Mempresentasikan hasil kerja mandiri atau kelompok di depan kelas
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.21
Kesulitan Bapak/Ibu dalam menerapkan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi lisan dan tulisan adalah:
  • Tidak cukup waktu
  • Kurang menguasai metode mengajar yang efektif dan efisien
  • Tidak didukung Kepala Sekolah
  • Kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung di sekolah
  • Kemampuan peserta didik tidak memadai
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.22
Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan bapak/ibu untuk meningkatkan kreatifitas peserta didik adalah :
  • Ceramah dan diskusi
  • Belajar berkelompok
  • Pembelajaran berbasis proyek
  • Pembelajaran berbasis masalah
  • Pembelajaran inkuiri dan penemuan (discovery)
  • Strategi/metode inovatif lainnya
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.23
Kesulitan bapak/ibu dalam menerapkan pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kreatifitas peserta didik adalah :
  • Tidak cukup waktu
  • Kurang menguasai metode mengajar yang efektif dan efisien
  • Tidak didukung Kepala Sekolah
  • Kurangnya sarana dan prasarana di sekolah
  • Kemampuan peserta didik tidak memadai
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.23
Kesulitan bapak/ibu dalam menerapkan pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kreatifitas peserta didik adalah :
  • Tidak cukup waktu
  • Kurang menguasai metode mengajar yang efektif dan efisien
  • Tidak didukung Kepala Sekolah
  • Kurangnya sarana dan prasarana di sekolah
  • Kemampuan peserta didik tidak memadai
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.24
Pembelajaran yang bapak/ibu lakukan untuk mengembangkan keingintahuan dan budaya belajar peserta didik :
  • Memotivasi peserta didik untuk giat belajar pada kegiatan awal pembelajaran
  • Meningkatkan keingintahuan melalui pengamatan fenomena alam dan sosial
  • Melibatkan peserta didik dalam pembelajaran aktif untuk mengekplorasi fenomena alam dan sosial
  • Melakukan pembelajaran secara inkuiri
  • Menumbuhkan kebiasaan membaca dan menyampaikan informasi yang diperoleh
  • mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk menganalisis sebuah permasalahan
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.3.31
Frekuensi supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam satu tahun terakhir
  • Lebih dari 2 kali/tahun
  • 2 kali/tahun
  • 1 kali/tahun
  • tidak pernah

G.3.33
Kepala sekolah membantu/membimbing guru dalam memperbaiki
•     Perencanaan
•     Pelaksanaan pembelajaran
•     Penilaian hasil belajar
•     tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.1
Prinsif yang digunakan oleh bapak/ibu dalam penilaian adalah
  • Obyektif, yakni berbasis pada standar dan tidak subyektif
  • Terpadu, yakni terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan
  • Ekonomis, yakni efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan
  • Transparan, yakni prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak
  • Akuntabel, yakni dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, maupun hasilnya
  • Edukatif, mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.3
Langkah-langkah yang dilakukan bapak/ibu dalam menyusun instrumen penilaian adalah sebagai berikut:
  • menetapkan indicator, menyusun kisi-kisi, menyusun instrumen, mengkaji SK/KD, memilih jenis instrumen
  • mengkaji SK/KD, memilih jenis instrument, menyusun kisi-kisi, menyusun instrumen
  • mengkaji SK/KD, menyusun kisi-kisi, memilih jenis instrument, menyusun instrumen
  • mengkaji SK/KD, memilih jenis instrument, menyusun instrumen, menyusun kisi-kisi
  • melakukan pembahasan instrumen bersama teman sejawat, menyusun instrumen
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.6
Ketersediaan prosedur dan kriteria penilaian dapat diakses dalam bentuk
  • Dokumen cetak
  • Dokumen yang mudah diakses di internet
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.7
Petunjuk pelaksanaan penilaian yang tersedia dan digunakan di sekolah bapak/ibu meliputi:
  • Pedoman penilaian
  • Kriteria ketuntasan hasil belajar
  • Pedoman penskoran termasuk rubrik penilaian
  • Petunjuk tentang pengolahan nilai dan KKM
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.10
Teknik penilaian yang dilakukan untuk menilai pengetahuan peserta didik dan dapat ditunjukkan bukti fisiknya meliputi:
  • Tes tertulis
  • Tes lisan
  • Instrumen penugasan
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.11
Bagaimana bapak/ibu menilai karakter peserta didik (jujur, disiplin, menghargai orang lain, dan bertanggungjawab)
  • Menganalisis kesamaan/pola jawaban dalam jawaban ujian
  • Melakukan pengamatan sikap dan perilaku terutama untuk kelompok pelajaran agama dan akhlak mulia
  • Menganalisis laporan hasil pengamatan beberapa guru terkait sikap dan perilaku peserta didik
  • Menilai sikap perilaku peserta didik ketika berada di sekolah
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.12
Jenis penilaian sikap dan perilaku yang telah bapak/ibu lakukan dan dapat ditunjukkan dalam bentuk fortofolio peserta didik dalam satu semester adalah
  • Lembar Observasi
  • Penilaian diri
  • Penilaian antar teman
  • Jurnal
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.13
Bagaimana bapak/ibu menilai kompetensi peserta didik dalam berkomunikasi efektif dan santun
  • Menganalisis tes uraian menggunakan rubrik
  • Menilai laporan telaah buku dan/atau karya tulis yang dibuat oleh peserta didik
  • Menilai penyampaian peserta didik dalam menyajikan karya di depan kelas
  • Menilai sikap dan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.14
Bapak/ibu menilai kreatifitas peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan atau menghasilkan karya, melalui :
  • Penilaian karya yang dihasilkan menggunakan rubrik
  • Melaksanakan pameran hasil karya peserta didik (showcase portfolio)
  • Penilaian proses selama pembelajaran, terkait dengan kemampuan mengidentifikasi permasalahan dan menganalisis masalah, dan mengajukan solusi
  • Penilaian kemampuan peserta didik dalam merancang, menghasilkan, dan mengkomunikasikan proses penyelesaian masalah/pembuatan produk
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.15
Jenis penilaian keterampilan yang telah bapak/ibu lakukan dan dapat ditunjukkan dalam bentuk fortofolio peserta didik dalam satu semester adalah
  • Fortofolio
  • Tes praktek
  • Proyek
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.16
Permasalahan bapak/ibu dalam membuat dan melaksanakan penilaian sikap dan perilaku menggunakan instrumen non-tes adalah
  • kurang memahami cara membuat instrumen, menggunakan, dan mengolah hasilnya
  • belum melakukan penilaian sikap dan perilaku karena tidak tercantum dalam RPP
  • tidak cukup waktu untuk melaksanakan penilaian sikap dan perilaku
  • penilaian sikap dan perilaku tidak dituntut oleh sekolah
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.4.20
Bapak/Ibu guru memanfaatkan hasil penilaian untuk mengetahui:
  • Kemajuan belajar siswa,
  • Kesulitan belajar siswa,
  • Cara melakukan perbaikan proses pembelajaran
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.5.10
Peningkatan kemampuan bapak/ibu dalam melakukan penilaian sikap, perilaku, dan keterampilan dalam tiga tahun terakhir :
  • dilakukan dengan bantuan sekolah dan sudah diterapkan dalam pembelajaran
  • dilakukan secara mandiri atas inisiatif sendiri, namun belum memahami penilaian secara utuh
  • diperoleh melalui diskusi bersama rekan guru dalam kegiatan MGMP/KKG
  • diperoleh dengan bantuan Kemdikbud/Pemda, namun belum diterapkan karena belum paham
  • diperoleh dengan bantuan Kemdikbud/Pemda, dan sudah menerapkan penilaian autentik
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.5.11
Peningkatan kemampuan bapak/ibu dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kreatifitas peserta didik dalam tiga tahun terakhir:
  • dilakukan dengan bantuan sekolah dan sudah diterapkan dalam pembelajaran
  • dilakukan secara mandiri atas inisiatif sendiri, namun belum paham
  • diperoleh melalui diskusi bersama rekan guru dalam kegiatan MGMP/KKG
  • diperoleh dengan bantuan Kemdikbud/Pemda, namun belum diterapkan karena belum paham
  • diperoleh dengan bantuan Kemdikbud/Pemda, dan sudah diterapkan dalam pembelajaran
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.6.3
Bapak/Ibu menerima sosialisasi visi/misi sekolah melalui
  • Rapat
  • Spanduk, leaflet, brosur
  • Papan pajangan/banner
  • Dokumen RKS
  • Surat edaran kepala sekolah
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.6.8
Pihak-pihak yg terlibat dalam pengambilan keputusan di sekolah adalah
  • Kepala sekolah
  • Guru
  • Orang Tua Peserta didik
  • Pemerintah daerah
  • Dunia usaha dan dunia industri
  • Alumni
  • Tokoh masyarakat
  • Ketua Yayasan (untuk sekolah swasta)
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.6.10
Dalam bentuk apa saja, kepala sekolah dan guru berinteraksi/bekerjasama dalam pelaksanaan program sekolah
  • Penyusunan RKAS sekolah
  • Membangun kerjasama kemitraan dengan lembaga lain
  • Pemecahan masalah belajar peserta didik
  • Pengembangan kurikulum dan silabus
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.6.11
Pengelolaan sekolah di tempat bapak/ibu bekerja memberlakukan hal-hal sebagai berikut:
  • Melibatkan orang tua peserta didik dalam upaya meningkatkan mutu sekolah
  • Melibatkan guru dan komite sekolah dalam menetapkan sebuah kebijakan
  • Menerapkan azas demokrasi, keterbukaan, dan bertanggungjawab dalam pengambilan keputusan
  • Menerapkan sistem manajemen yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan mampu membuat sekolah menjadi mandiri
  • Menerapkan standar pelayanan prima
  • Menerapkan manajemen mutu terpadu
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.6.25
Nilai-nilai budaya yang tampak dalam keseharian di sekolah yang mendorong prestasi peserta didik dan kinerja guru adalah
  • Ikhlas dalam melaksanakan kegiatan sekolah
  • Bertukar pendapat dalam pemecahan masalah belajar peserta didik
  • Disiplin dalam menjalankan tugas
  • Sikap ilmiah yang dimiliki warga sekolah
  • Suasana kondusif di sekolah
  • Tolong-menolong melalui kegiatan sosial sekolah
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.6.26
Dalam hal apa Kepala Sekolah Bapak/Ibu dapat dijadikan teladan bagi warga sekolah
  • Kejujuran
  • Memperhatikan bawahan, dan terbuka
  • Kerja keras dan disiplin
  • komunikatif dan perhatian
  • Bekerjasama dengan pihak lain untuk kepentingan pengembangan sekolah
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.6.27
Ketauladanan pimpinan sekolah yang ditemukan dalam keseharian kegiatan sekolah
  • Kepedulian pimpinan terhadap program kerja sekolah
  • Tanggungjawab kepala sekolah
  • Keikhlasan dalam melaksanakan tugas
  • Kemampuan mengorganisir staf/guru
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.6.28
Bagaimana bapak/ibu mengakses laporan pengelolaan keuangan sekolah
  • Dapat diakses via internet
  • dapat diakses melalui komputer di ruangan khusus
  • Disediakan dalam bentuk laporan cetak
  • hanya dapat diakses oleh pihak tertentu
  • Tidak tersedia
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.7.15
Kondisi penggunaan sarana laboratorium yang ada di sekolah bapak/ibu
  • Digunakan secara rutin
  • Tidak dapat digunakan karena peralatan tidak lengkap
  • Tidak dapat digunakan karena peralatan utama rusak
  • Tidak digunakan karena tidak ada bahan yang dibutuhkan
  • Tidak digunakan karena tidak terkait dengan tujuan pembelajaran
  • Tidak digunakan karena belum memahami cara menggunakannya
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.7.16
Peralatan yang rusak di laboratorium terutama disebabkan karena
  • Sering digunakan
  • Penyimpanan yang tidak tepat
  • Tidak dirawat secara rutin karena tidak ada dana
  • Tidak digunakan karena tidak sesuai dengan kebutuhan
  • Memang sudah rusak sejak diterima
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.7.17
Kondisi ruang kelas yang dimiliki disekolah :
  • Sirkulasi udara baik
  • Kebersihan terjaga
  • Pencahayaan cukup
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.7.18
Kondisi laboratorium dan perlengkapan yang dimiliki oleh sekolah :
  • Ukuran ruang standar
  • Penataan ruang baik
  • Kelengkapan perabot mencukupi
  • Tersedia sambungan internet
  • Daya listrik memadai
  • tidak ada jawaban yang sesuai

G.7.20
Kondisi kerja di ruang kerja guru disekolah:
  • Ukuran ruang memadai
  • Penataan ruang baik
  • Kelengkapan perabot mencukupi
  • Peralatan Memadai
  • Sambungan internet
  • Daya listrik yang memadai
  • tidak ada jawaban yang sesuai

Popular Posts